PROBLEMATIKA KESUBURAN TANAH PADA SAWAH TADAH HUJAN di KECAMATAN KARANGAN KABUPATEN TRENGGALEK

PROBLEMATIKA KESUBURAN TANAH PADA SAWAH TADAH HUJAN DI KECAMATAN KARANGAN KABUPATEN TRENGGALEK

 Resti Nur Laili_15825_B1

            Pada pertanian dengan lahan tadah hujan yang cenderung memanfaatkan air hujan untuk irigasi tanaman telah memunculkan berbagai kendala dalam melakukan usaha budidaya tanaman. Curah hujan merupakan faktor pembatas yang menentukan keberhasilan budidaya pada sawah tadah hujan. Air hujan sebagai sumber air utama pada lahan sawah tadah hujan sering kali mengalami pergeseran terkait pola curah hujan, sehingga menyebabkan ketersediaan air hujan yang tak menentu. Ketersediaan air ini menjadi kendala utama dalam perencanaan pengelolaan lahan tadah hujan.Menurut Yartiwi et al. (2018), budidaya pada lahan tadah hujan mempunyai resiko yang cukup tinggi. Kekurangan pasokan air dan ketidakseimbangan kandungan unsur hara merupakan permasalahan yang utama. Pada musim hujan,potensi terjadinya banjir sangat besar,sedangkan pada musim kemarau berpotensi terjadi kekeringan pada lahan tadah hujan.

Di daerah Trenggalek sendiri tepatnya di Kecamatan Karangan, kawasannya banyak dijumpai kelompok lahan kering dan sawah tadah hujan.Pada hari Minggu, 8 November 2020 saya telah melakukan wawancara kepada salah satu petani sawah tadah hujan. Beliau adalah Ibu Mia 34 tahun yang memiliki lahan seluas 50 ru di Dusun Bedoyo,Desa Jati, Kecamatan Karangan,Kabupaten Trenggalek. Kondisi tanah di lahan Bu Mia yaitu bertekstur dominan kasar, dengan warna coklat terang dengan kelengasan yang cukup rendah. Pada sawah tadah hujan ini Bu Mia membudidayakan komoditas padi dengan rotasi tanam jagung. Pengolahan tanah di lahan Bu Mia dilakukan dengan traktor.Dalam kegiatan budidaya, Bu Mia menggunakan padi varietas bramo dengan jarak tanam 25 x 25 cm, sedangkan untuk jagung menggunakan varietas wirosableng dengan jarak tanam 65x25 cm.

Pada saat saya melakukan wawancara, kondisi lahan Bu Mia pada saat itu ditanami dengan jagung dengan sebagian tanaman sudah dipanen. Untuk padi ditanam pada saat  memasuki musim hujan pada kisaran bulan Januari-Maret.Hal ini dilakukan agar kebutuhan airnya tercukupi, sedangkan pada jagung ditanam pada saat memasuki musim kemarau pada kisaran bulan April-Juni dengan pengairan irigasi menggunakan diesel. Baik padi maupun jagung sama-sama dipanen pada saat umur kurang lebih 100 hari setelah tanam atau berkisar 3 bulan.

Untuk memberikan hasil pertumbuhan yang baik pada tanaman budidaya, Bu Mia melakukan pemupukan menggunakan pupuk organik berupa kotoran sapi yang diaplikasikan pada saat tanaman berumur 10 hst sebanyak ± 50 gr per tanaman.Kemudian dilanjutkan dengan pemupukan anorganik menggunakan pupuk phonska yang diaplikasikan pada saat tanaman berumur 25 hst sebanyak ± 1 sendok makan per tanaman atau kurang lebih 10 gram per tanaman dengan cara ditaburkan disekitar tanaman.Hal tersebut berlaku untuk kedua tanaman, yang berarti dosis dan waktu pemupukan untuk tanaman baik padi maupun jagung dilakukan dengan cara yang sama. Dalam satu kali siklus tanam, lahan sawah tadah hujan Bu Mia ini mampu menghasilkan hasil panen padi sebanyak 45kg dan jagung 300 kg.Berdasarkan penelitian Amrizal dan Nugroho (2018), perlakuan pemberian pupuk N 300kg/ha, P 60 kg/ha, K 60kg/ha merupakan kombinasi  yang optimal dengan nilai produktivitas ertinggi yaitu 7,86 ton/ha jagung yang ditanam pada lahan tadah hujan di Kecamatan Banyakan,Kabupaten Kediri,Jawa Timur.

Pemupukann pada lahan tadah hujan ini merupakan salah satu cara intensifikasi untuk dapat meningkatkan produktivitas lahan tadah hujan. Mengingat kondisi lahan yang memiliki karakteristik miskin hara dan sering mengalami kekeringan. Penambahan pupuk pupuk ini dapat memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro.Jika dilihat dari produktivitas lahannya, lahan Bu Mia ini termasuk tanah yang subur.Namun disamping itu, dalam melakukan kegiatan budidaya tetap akan dijumpai berbagai  problematika dalam menghasilkan bahan pangan.Salah satu problematika yang dihadapi Bu Mia adalah sulitnya akses terhadap air dan pupuk.Menurut Bu Mia,kesulitan akses terhadap air ini yang pertama disebabkan karena jenis lahan yang berupa sawah tadah hujan, sehingga ketika musim kering datang tanah di lahan tersebut akan mengeras.Kemudian yang kedua yaitu lokasi sumur bor yang cukup jauh dengan sawah,sehingga harus menggunakan diesel ini cukup menambah biaya dalam kegiatan budidaya.

Hal ini didukung dengan pernyataan Herawati et al. (2019), terjadinya kekeringan, pada tanah tersebut, akan terjadi perlengketan yang memadat satu dengan lain (tidak gembur lagi), sehingga tanah pun menjadi mengeras. Bisa dibayangkan jika pemupukan kimia dilakukan selama berpuluh tahun tanpa ada pertukaran dari budaya pupuk kimia dengan pupuk organik. Dipastikan lahan akan semakin kurus dan ketergantungan dengan pupuk kimia akan semakin membesar. Selain keras memadat dan tidak gembur, tanah juga menjadi meningkat keasamannya. Kondisi ini berdampak pada organisme-organisme pembentuk unsur hara (organisme penyubur tanah) menjadi mati atau berkurang populasinya. Berbagai jenis binatang yang bersifat menggemburkan tanah seperti cacing tidak dapat lagi hidup pada habitat tanah tersebut dan akan kehilangan unsur alamiahnya. Bila ini yang terjadi, maka tanah tidak akan bisa menyediakan berbagai unsur makanan secara mandiri lagi, yang akhirnya akan menjadi sangat bergantung selanjutnya kepada pupuk tambahan, yaitu pupuk kimia anorganik.

            Kondisi kekeringan pada tanah tadah hujan dapat berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati tanah dan erosi tanah. Kekeringan yang berkelanjutan atau pola curah hujan yang berbeda dapat menyebabkan penurunan bahan organik, hilangnya stabilitas agregat,degradasi struktur tanah dan ketersediaan hara dalam jangka panjang. Cekaman kekeringan tidak hanya mempengaruhi parameter fisik dan kimiawi kesuburan tanah, tetapi juga parameter mikrobiologi.Hanya sistem tanahlah yang dapat menahan cekaman tersebut serta mampu mempertahankan kesuburannya. Dampak utama dari kekeringan pada tanaman adalah penurunan hasil serta kualitas hasil, yang terjadi karena penurunan unsur makro dan mikronutrien yang tersedia serta aktivitas mikroba terkait. Salah satu cara yang mungkin dilakukan untuk meminimalkan dampak kekeringan adalah dengan mengembangkan toleransi tanaman melalui pengelolaan nutrisi tanaman yang efektif (Sharma dan Ghobi., 2016).

            Pada saat wawancara telah dilakukan sharing terkait cara untuk mengatasi kondisi kekringan sehingga tanaman bisa lebih toleran dengan kondisi tersebut. Pada saat itu saya menjelaskan kepada Bu Mia dari segi mikrobiologi berdasarkan jurnal yang pernah saya baca bahwasannya hal itu dapat dilakukan dengan pengaplikasian rhizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman atau lebih dikenal dengan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR).

Menurut Gosmawi and Deka (2020), PGPR memainkan peran penting untuk meningkatkan efisiensi pemupukan, menghasilkan toleransi stres pada, dan memulihkan tanah yang terkontaminasi logam.PGPR mampu mendorong pertumbuhan tanaman melalui mobilisasi nutrisi tanah, kontrol keseimbangan hormonal, sekresi zat pengatur tumbuh dan molekul sinyal. PGPR dapat bekerja melaui induced systemic resistance (ISR) yaitu dengan menginduksi tanaman agar toleran terhadap cekaman abiotik. Seperti halnya melalui inokulasi PGPR Phyllobacterium brassicacearum STM196 ke dalam rhizosfer tanaman Arabidopsis mampu meningkatkan toleransi stres osmotiknya dengan meningkatkan kadar asam giberelat (ABA).Asam absisat (ABA) juga mampu meningkatkan toleransi kekeringan melalui regulasi gen persinyalan seperti  OsNAP, OsNAC5, dan DSM2, yang responsif terhadap stres dan telah terbukti meningkatkan hasil gabah dalam kondisi kekeringan.

Namun untuk mengaplikasikan hal tersebut tentunya tidak mudah dan perlu dilakukan riset lebih lanjut oleh para pakarnya.Solusi lain yang mungkin dapat membantu permasalahan Bu Mia yaitu dengan mengaplikasikan bahan organik seperti kompos.Menurut Gusta dan Kusumastuti (2017), penggunaan bahan organik merupakan salah satu teknik remediasi yang sering digunakan untuk perbaikan lahan kering. Pemberian bahan organik dalam bentuk kompos dapat memperbaiki kandungan kesuburan tanah maupun pertumbuhan tanaman semusim dan tahunan. Pemberian pupuk organik seperti kompos kiambang ke dalam tanah dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga nutrisi tanaman menjadi efisien. Penambahan kompos kiambang (kayapu) yang telah terdekomposisi pada media topsoil mampu meningkatkan hara di dalam tanah dan juga mampu memperahankan air tanah, sehingga tanaman yang diberi kompos menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik.

            Selain permasalahan kebutuhan air,Bu Mia juga mengalami permasalahan dalam akses pupuk.Beliau menggunakan pupuk bersubsidi dari pemerintah namun menurut beliau sampai saat itu beliau belum juga mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut. Jika memang harus membeli tentu harganya tidak murah dan ditakutkan akan menambah biaya produksi yang tidak sebanding dengan penerimaan. Oleh karena itu Bu Mia dengan petani yang lain saling berbagi pupuk bersama untuk meminimalisir biaya, sehingga dosis penggunaan pupuk anorganik pun harus diminimalisir.Bu Mia juga mengedepankan penggunaan pupuk organik berupa kotoran sapi yang telah disebutkan di atas.

            Berkaitan dengan sulitnya menerima bantuan pupuk bersubsidi ini dikarenakan panjangnya rantai distribusi dari produsen kepada petani, sehingga memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tangan petani. Dalam hal ini memungkinkan juga terjadi kebocoran yang tidak tepat sasaran. Menurut subejo et al,(2014), di tingkat petani,masal utamanya adalah rendahnya daya beli petani untuk membeli pupuk secara tunai dan sering terjadi kondisi petani harus membayar di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Jika tidak ada solusi yang tepat dan kondisi ini terus dibiarkan, akan semakin menyulitkan petani di tingkat bawah.

            Faktor penyebab masalah pupuk terus berulang adalah peningkatan kebutuhan pupuk seiring dengan keinginan meningkatkan produktivitas tanaman. Tak jarang pula petani menggunakan pupuk secara berlebihan atau tidak seimbang. Kemudian keterbatasan pasokan gas dan bahan baku untuk memproduksi pupuk semakin terbatas (Subejo et al.,2014). Hal yang dapat dilakukan Bu Mia terkait permasalahan tersebut yaitu dengan memanfaatkan bahan organik sisa hasil tani untuk dibuat pupuk sendiri.Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat pupuk organik seperti halnya dengan dibuat bokashi,pupuk organik cair (POC), pupuk organik dari bahan campuran pupuk kandang dan arang sekam,serta pengomposan.

 

Referensi :

Amrizal,R., dan A.Nugroho.2018. Pengaruh pemberian berbagai kombinasi pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) pada lahan tadah hujan.Jurnal Produksi Tanaman.  6(7) : 1537-1542.

 

Gosmawi,M  and Deka.S. 2020. Plant growth-promoting rhizobacteria alleviators of abiotic stresses in soil: A review. Pedosphere. 30(1): 40–61.

 

Gusta,A.R., and A.Kusumastuti.2017. Upaya mengatasi cekaman kekeringan pada tanaman nilam (Pogostemon Cablin Benth.) dengan memanfaatkan kompos kiambang. Jurnal Agro Industri Perkebunan. 5 (2) : 123-127.

 

Herawati,M., Soekamto., A.Fahrizal.2019. Upaya peningkatan kesuburan tanah pada lahan kering di Kelurahan Aimas Distrik Aimas Kabupaten Sorong.Abdimas : Papua Journal of Community Service. 1 (2) : 14-23.

 

Sharma,S.B., and T.A.Gobi. 2016. Impact of drought on soil and microbial diversity in different agroecosystems of the semiarid zones. Gujarat Institute of Desert Ecology,India.

 

Subejo, dkk. 2014. 5 Pilar Kedaulatan Pangan Nusantara. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta.

 

Yartiwi,A.Romeida., S.P.Utama. 2018. Uji adaptasi varietas unggul baru padi sawah untuk optimasi lahan tadah hujan berwawasan lingkungan di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 7 (2) : 91-97.

 

Komentar