UAS DASAR ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

 

·        
Komoditas pangan (hama tikus pada padi)

Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama yang menyerang tanaman padi.Tikus menyerang semua fase tanaman padi dan sulit dikendalikan karena mempunyai kemampuan adaptasi, mobilitas, dan berkembang biak yang tinggi. Maka dari itu diperlukan pengendalian baik secara kultur teknis, hayati, mekanis, dan kimiawi untuk meminimalisir terjadinya kerusakan pada tanaman padi.

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan penerapan sistem tanam serempak dengan varietas dan umur tanaman yang seragam, hal ini dilakukan untuk membatasi tersedianya pakan tikus pada saat padi dalam fase generatif, sehingga tidak terjadi perkembangbiakan tikus yang terus-menerus. Penggunaan varietas dan umur tanaman yang seragam bertujuan agar pertumbuhan tanaman menjadi seragam. Apabila dilakukan penanaman serempak, maka puncak populasi tikus menjadi singkat, yaitu ketika masa generatif dan pakan tersedia.Hal ini terbukti ketika saya lakukan wawancara kepada pak Zainal, petani di Dusun Blawong I dimana para petani disana tidak menerapkan pola tanam serempak dan didapatkan serangan hama tikus besar-besaran. Kondisi ini dirasa sangat tidak menguntungkan bagi para petani akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tikus.Hal ini disebabkan karena dengan menanam padi tidak serempak akan memberi peluang tikus untuk lama tinggal di persawahan karena terus tersedianya pakan sebagai sumber nutrisi bagi tikus.

Pengendalian tikus juga dapat dilakukan dengan pengembangan trap barrier system (TBS).Pada TBS digunakan petak utama yang ditanami padi sebagai tanaman perangkap dan dikelilingi oleh pagar plastik atau terpal. Di sekelilingnya dibuat parit yang diisi air dan lubang masuk tikus dimana pada setiap lubang masuk dipasang bubu perangkap yang dapat menangkap tikus. Untuk mengarahkan tikus supaya masuk ke pintu bubu maka dibuatkan jembatan tikus yang terbuat dari gundukan tanah yang menghubungkan antara pematang parit menuju ke pintu bubu perangkap.Dengan demikian maka tanaman yang berada disekitarnya akan bebas dari serangan tikus atau paling tidak populasi hama tikus akan menjadi berkurang.Selanjutnya pengendalian yang cukup efektif untuk dilakukan adalah dengan mengelilingi sawah dengan kabel yang diberi aliran listrik. Hal ini dilakukan setiap malam, sehingga jika tikus keluar dari lubang, maka akan langsung mati karena terkena aliran listrik tersebut.

            Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan memanfaatakan musuh alami yaitu burung hantu (Tyto alba). Penanganan dengan memanfaatkan predator ini dilakukan karena dirasa cukup efektif, efisien dan tidak memiliki dampak lingkungan terhadap lahan pertanian.Burung Hantu memiliki pendengaran sangat tajam dan mampu mendengar suara tikus jarak jauh. Namun disisi lain ada kekurangan dari metode ini, yaitu burung hantu tidak dapat mengendalikan populasi tikus dalam jumlah besar dikarenakan burung hantu dewasa hanya dapat memangsa tikus sebanyak 2 – 5 ekor tikus setiap harinya, sedangkan pertumbuhan tikus sangat cepat.

Pengendalian selanjutnya dapat dilakukan dengan memakai perangkap dengan umpan beracun. Caranya yaitu dengan mencampur rodentisida dengan berbagai jenis bahan sebagai umpan agar tikus tidak dapat membedakan racun yang telah dicampur kebahan makanan.Pada mulanya perlu diawali dengan pemberian umpan yang tidak mengandung racun. Hal ini bertujuan agar tikus menjadi terbiasa dengan umpan yang diberikan sehingga pada saat diberi umpan beracun berikutnya, tikus akan memakannya dalam jumlah yang cukup banyak sampai dosis yang mematikan. Hal ini dikarenakan tikus memiliki kemampuan indera yang menunjang aktiftas hidupnya. Terutama indera perasa tikus, yang dapat mendeteksi zat - zat pahit bersifat toksit sehingga tikus dapat menolak racun.

·         Komoditas hortikultura (hama Plutella xylostella (ulat daun kubis) pada kubis)

Pengendalian Plutella xylostella dapat dilakukan dengan menerapkan teknik tumpang sari antara kubis dengan tomat. Penanaman tomat sebagai tanaman tumpang sari dimaksudkan untuk mengendalikan jumlah larva pada tanaman utama.Dalam hal ini tomat berfungsi sebagai penolak dan barrier (penghalang) dimana daun tomat mengeluarkan bau yang membuat P.xylostella tidak suka bertelur pada kubis dan disekitar tomat, dengan demikian P.xylostella dapat dikendalikan.

            Selanjutnya hama P.xylostella dapat dikendalikan dengan penggunaan senyawa kimia yang berasal dari produk alami yang berasal dari tumbuhan atau pestisida nabati.Dalam hal ini Salah satu tumbuhan obat yang bersifat insektisida adalah babadotan (Ageratum conyzoides, L). Pengaplikasian tepung daun dan bunga babadotan yang dicampur terigu mampu menghambat serangga larva menjadi pupa, sehingga dapat digunakan untuk menurunkan intensitas serangan hama P.xylostella pada tanaman kubis. Tanaman babadotan menghasilkan racun yang merupakan senyawa kompleks yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan pemakannya, baik senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan dapat memodifikasi perilaku serangga.

            Penggunaan serangga musuh alami juga dapat menekan serangan hama P.xylostella pada tanaman kubis.Seperti parasitoid Diadegma semiclausum yang mampu berasosiasi dengan hama P. xylostella akan cenderung mempengaruhi penigkatan angka kematian atau menurunkan angka kelahiran hama P. xylostella. Interaksi yang terjadi yaitu dengan masuknya Diadegma semiclausum ke habitat P. xylostella untuk melakukan serangkaian aktifitas memarasit demi untuk melanjutkan keturunannya, sehingga perkembangan P. xylostella akan lebih mudah untuk ditekan.Kemudian dapat dimanfaatkan jamur entomopatogen yang berasosiasi dengan P. xylostella dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai bioinsektisida untuk menekan terjadinya serangan hama P.xylostella pada tanaman kubis. Dalam hal ini dapat digunakan jamur dari genus Hirsutella bersifat patogenik pada serangga, tungau dan nematoda. Mekanismenya yaitu Hirsutella sp. menyerang larva dan pupa P. xylostella sehingga akan menyebabkan infeksi pada P. xylostella yang ditandai dengan terlihatnya tubuh buah-tubuh buah (synnemata) berwarna putih yang keluar dari larva P. xylostella.

Text Box: Referensi :Sudartik,E.2015. Keefektivan tiga teknik pengendalian tikus sawah (Rattus argentiventer Rob & Kloss) di Desa Murante, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu.Jurnal Pertanian Berkelanjutan. 4(1) : 1-13.

Supartha,N.P.,I.W.Susila,dan K.A.Yuliadhi.2014. Keragaman dan kepadatan populasi parasitoid yang berasosiasi dengan Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae) pada tanaman kubis tanpa aplikasi dan aplikasi insektisida.Jurnal Agroeteknologi Tropika. 3(1) :12-22.

Nurhudiman.2017. Uji potensi daun babadotan (Ageratum conyzoides L.) sebagai insektisida botani terhadap hama (Plutella xylostella L.) di laboratorium,Fakultas Pertanian,Universitas Bandar Lampung,Skripsi.

 

Komentar