USAHA PRODUKSI RUMAHAN ALEN-ALEN JADUL PAK KARIM

Resti Nur Laili/18/430508/PN/15825

Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian,UGM

 

I.                   Pendahuluan

Kabupaten Trenggalek merupakan daerah yang terletak di selatan Provinsi Jawa Timur dengan dominasi wilayah berupa lahan pertanian yang luas dan subur sehingga mudah untuk budidaya tanaman pertanian khususnya singkong. Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah dengan sentra lahan ubi kayu yang cukup luas. Dinas KOMINFO Jawa Timur (2011) menyatakan bahwa Jawa Timur memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan usaha dengan bahan dasar singkong dikarenakan lahan ubi kayu yang sangat luas. Tahun 2010 sasaran produksi ubi kayu mencapai 3.642.000 ton yang dikembangkan dari lahan seluas 239.760 ha dengan produktivitas 158.23 kuintal/ha. Lahan-lahan tersebut tersentra di enam kabupaten, antara lain Kabupaten Pacitan 37.000 ha, Ponorogo 23.000 ha, Trenggalek 20.000 ha, Sampang 17.000 ha, Malang 20.000 ha, dan Sumenep 16.000 ha.

Tingginya potensi untuk mengembangkan produk berbahan dasar singkong mendorong masyarakat Trenggalek untuk berkreasi dan berinovasi mengembangkan makanan ringan (camilan) khas Trenggalek dengan nama alen-alen. Alen-alen dijadikan sebagai makanan ringan karena bentuknya yang relatif kecil dan ringan serta rasanya yang membuat tidak cepat bosan. Saat ini sudah banyak makanan ringan yang beredar di Trenggalek yang mempunyai bentuk, rasa, pengemasan, dan tampilan yang berbeda-beda yang dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian konsumen.

Selain itu, semakin berkembangnya tempat pariwisata yang menarik di Trenggalek dapat menjadi peluang makanan tradisional untuk lebih dikenal oleh masyarakat luas serta dapat berkembang dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama yang sedang melakukan perjalanan untuk liburan. Banyaknya pengunjung dari luar kabupaten untuk melakukan wisata diharapkan membeli oleh-oleh pada hari itu sehingga permintaan alen-alen sebagai makanan khas daerah meningkat.

Untuk mengetahui analisis usaha alen-alen lebih lanjut, saya melakukan wawancara kepada Bapak Karim selaku pemilik usaha “Alen-Alen Jadul” sebagai salah satu sentra produksi oleh-oleh di Kabupaten Trenggalek. Usaha ini terletak di Jalan Mohamad Yamin, Sumbergedong,Kabupaten Trenggalek,Jawa Timur. Usaha ini dimulai pada tahun 1976 secara turun temurun dengan latar belakang untuk memanfaatkan produksi singkong yang banyak dibudidayakan oleh petani di Trenggalek.Di sisi lain usaha ini bertujuan untuk menciptakan makanan khas dengan bentuk yang unik yaitu menyerupai cincin dengan pengolahan yang berbeda dari yang lain. Selain itu, juga untuk memproduksi makanan ringan yang lebih sehat ditengah banyaknya makanan ringan yang mengandung pewarna sintesis maupun perasa buatan.

Menurut Pak Karim usaha ini sudah cukup berkembang. Adapun asumsi bahwa usaha ini berkembang yaitu pemasaran produk alen-alen jadul ini telah sampai luar daerah yang meliputi Tulungagung dan Blitar.Selain itu, usaha ini juga memiliki cukup banyak pelanggan tetap maupun reseller untuk menjual kembali produk, hal ini dikarenakan pak Karim selalu meningkatkan kualitas produk menjadi lebih baik dan disukai konsumen serta memberikan pelayanan yang menyenangkan membuat konsumen ingin menjadi pelanggan tetap sehingga konsumen dapat memperbanyak jumlah transaksi pembelian.

 

II.                Gambaran umum dan Pembahasan

Usaha “Alen-Alen Jadul” ini merupakan usaha yang bergerak di bidang  kuliner dengan fokus utama pada makanan ringan khas daerah Trenggalek yang terbuat dari adonan tepung singkong yang dibentuk menyerupai cincin dan digoreng.Kata alen-alen sendiri diambil karena bentuknya yang menyerupai ali-ali atau cincin berwarna kuning. Tepung singkong dipilih sebagai bahan  baku dalam pembuatan alen-alen karena singkong dapat dijadikan sebagai salah satu asupan karbohidrat selain beras.

Tabe l Komposisi Zat Gizi Singkong Per 100 g BDD

No

Kandungan Zat Gizi

Volume

1.

Air

61,4 g

2.

Energi

154 kkal

3.

Protein

1,0 g

4.

Lemak

0,3 g

5.

Karbohidrat

36,8 g

6.

Serat

0,9 g

7.

Abu

0,5 g

8.

Kalsium

77 mg

9.

Fosfor

24 mg

10.

Besi

1,1 mg

Sumber: Daftar Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia (DKPI), 1995.

Berdasarkan sajian nilai gizi pada tabel di atas, alen-alen masih dapat dikagorikan dalam salah satu makanan ringan yang memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap karena di dalam 100gr singkong sebagai bahan dasar terdapat berbagai zat yang diperlukan oleh tubuh yaitu besi, fosfor, kalsium, serat, karbohidrat, lemak, dan protein sehingga dapat dikonsumsi sebagai salah satu makanan sehat.

Produk alen-alen dibuat dengan bahan dasar singkong yang telah dihaluskan menjadi tepung tapioka, kemudian ke dalam tepung tapioka ditambahkan telur dan santan, serta bawang putih,kunyit,garam yang telah dihaluskan. Kemudian adonan diuleni sampai kalis dan digulung menjadi pita panjang. Untuk membentuk alen-alen yang bulat berlubang dipakai cara manual dengan tangan sehingga terbentuk alen-alen yang memiliki bentuk khas yang siap untuk digoreng. Setelah itu adonan digoreng hingga matang dan ditiriskan agar tidak ada minyak yang tersisa. Kemudian produk yang telah jadi dikemas sesuai dengan berat yang ditentukan.Untuk produk alen-alen jadul sendiri tiap 1 pack memiliki berat sekitar 300 gram.Pengemasan produk dilakukan dengan stealer untuk menjaga higienitas produk.

Alen-alen banyak digemari masyarakat karena selain memiliki kualitas produk yang baik, juga memiliki rasa yang enak dan harganya yang relatif murah. Tidak hanya masyarakat lokal yang mengkonsumsi alen-alen tetapi juga banyak masyarakat dari daerah lain yang ingin mengkonsumsi makanan tradisional khas Trenggalek tersebut untuk dibawa ke kota asalnya.

Usaha alen-alen jadul ini pada umumnya merupakan unit usaha keluarga, sehingga mempunyai jaringan usaha yang sangat terbatas dan kemampuan penetrasi pasar yang rendah, oleh karena produk yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dan mempunyai kualitas yang kurang kompetitif. Maka dari itu diperlukan upaya untuk mengembangkan usaha serta mencapai target. Melalui strategi bisnis yang akan memudahkan pelaku usaha untuk menentukan arah bisnis dan menjalankan usaha yang diinginkankan. Di sisi lain, ketatnya persaingan di dunia bisnis juga menuntut pelaku usaha untuk siap bertarung dan menghadapi resiko yang sewaktu-waktu bisa muncul. Dengan demikian diperlukan beberapa cara untuk bisa diterapkan agar usaha yang telah dirintis bisa berkembang di masa depan.Langkah Pak Karim untuk mengembangkan usahanya akan dijelaskan lebih lanjut.

Dari segi produksi, usaha ini memproduksi  produk dalam bentuk makanan ringan yang telah dikemas dalam plastik dan dilengkapi dengan label yang menarik dan informatif sebagai brand tersendiri.Pemberian label ini diharapkan dapat menjadi identitas usaha agar para konsumen lebih mudah dalam mengenali produk alen-alen jadul ini. Untuk dapat menjaga ketahanan produk, Pak Karim lebih memilih menggunakan plastik yang lebih tebal. Menurutnya penggunaan plastik yang lebih tebal ini dapat menjaga ketahanan produk antara 1 sampai 2 bulan.

Dalam satu kali produksi, usaha ini memproduksi 20 pack tiap harinya. Tiap 1 pack  dibandrol dengan harga 8.000 rupiah untuk rasa original. Selain itu, seiring dengan bertambahnya usia perusahaan, Pak Karim terus berinovasi untuk meninggatkan peminat terhadap alen-alen agar mampu bersaing di pasar luar Trenggalek sehingga produksinya mudah berkembang dengan cara menambah variasi rasa pada produknya. Varian rasa ini terdiri dari rasa balado, coklat , pedas, keju yang dibandrol dengan harga 10.000 rupiah.

Pelaku usaha dalam hal ini adalah Pak Karim dengan istrinya tanpa tambahan karyawan hal ini dikarenakan menurut Pak Karim permintaan alen-alen dari konsumen masih bisa dipenuhi tanpa menambah biaya untuk karyawan.Untuk dapat memenuhi pesanan konsumen yang datangnya tak terduga, Pak Karim menggunakan mesin khusus pembuatan alen. Mesin ini memiliki prinsip kerja yaitu langsung bisa mencetak adonan alen menjadi bulatan yang menyerupai cincin, sehingga permintaan pasar bisa lebih diatasi serta jumlah produksi bisa lebih ditingkatkan.

Keunggulan produk ini yaitu dari segi bahan pokok yang digunakan menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet ataupun pewarna buatan. Seperti penggunaan kunyit sebagai pewarna alami makanan.Kemudian dari segi rasa, produk ini memiliki rasa yang enak dan gurih yang dapat menimbulkan suasana crunchy di mulut ketika memakannya.Hal ini dikarenakan adanya tambahan penggunaan bahan dasar seperti santan dan telur.Harga yang relatif terjangkau juga menjadi keunggulan dari produk ini.Dengan harga yang berkisar mulai 8000 sampai 10.000 rupiah, sudah bisa menikmati alen-alen jadul ini. Dengan demikian, alen-alen jadul ini telah bisa bersaing dipasaran.

Produksi alen-alen jadul ini dilakukan di rumah Pak Karim sendiri, yang menurut saya lokasinya cukup strategis, yaitu berada di kampung atau desa khusus untuk membeli oleh-oleh khas Trenggalek.Namun untuk menjangkau lokasi usaha alen-alen jadul ini harus memasuki gang sempit, tetapi hal itu tidak menjadikan masalah bagi Pak Karim, hal ini dikarenakan Pak Karim telah memasang papan penunjuk jalan di sekitar gang dengan harapan para konsumen bisa lebih mudah untuk mengetahui lokasi produksinya.

Selain itu, suasana tempat usaha yang masih tampak sederhana cukup kurang untuk dapat menarik minat pembeli yang datang. Suasana di lokasi alen-alen jadul, hanya terlihat etalase untuk tempat produk saja. Menurut saya, perlu dilakukan pengembangan terkait suasana produksi agar lebih menarik dan eye catching.Misalnya dengan menambahkan hiasan-hiasan disekitar tempat usaha dengan miniatur atau pajangan dinding khas trenggalek. Seperti penambahan latar belakang dengan menutup tembok dengan kain batik khas trenggalek, memajang hiasan dinding jaranan turongo yakso, atau memberikan wewangian yang bersifat tradisional saya rasa bisa menjadi daya tarik pengunjung tersendiri.      

Untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen maka dilakukan kegiatan pemasaran.Kegiatan pemasaran menyebabkan pelanggan siap membeli sehingga harus di fikirkan bagaimana membuat produk tersebut tersedia.Pada usaha alen-alen jadul ini, produk yang dipasarkan ini dapat dikonsumsi oleh seluruh kalangan usia mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua karena produk ini terbuat dari bahan-bahan alami tanpa pengawet atau pewarna buatan.

Dalam penjualan dan pemasaran produk ini, ada beberapa cara yang digunakan agar produk sampai ke tangan konsumen. Metode pemasaran yang digunakan pada usaha ini yaitu terdapat metode online dan offline. Metode online yaitu dengan melayani pemesanan secara online melalui aplikasi whatsapp, sedangkan pemasaran secara online dilakukan dengan melayani pembelian langsung di tempat usaha.

Dalam mengusahakan agar produk sampai ke tangan konsumen perlu dilakukan strategi pemasaran melalui kegiatan promosi. Dalam usaha alen-alen jadul ini tidak dilakukan promosi secara gencar, melainkan hanya melalui word of mouth, jadi secara tidak langsung promosi juga dilakukan oleh pelanggan yang puas setelah membeli produk alen-alen jadul ini dengan memberikan informasi mengenai produk yang telah dibeli. Hal ini dapat secara signifikan mendongkrak reputasi merek dan juga berpengaruh pada bagaimana produk dan jasa bisa dibeli, persepsi pelanggan dan tren baru yang dapat terbentuk.Namun menurut saya hal ini kurang efektif karena tidak bisa menjangkau banyak khalayak, sehingga tetap dibutuhkan promosi melalui situs internet. Salah satu caranya yaitu dengan Selain itu kegiatan promosi juga dapat dilakukan dengan memberikan pamphlet pada suatu event event tertentu untuk lebih menarik konsumen sekaligus menambah jumlah penjualan. Kemudian dengan mengiklankan produk di dunia maya dengan membuat account bisnis dan feed yang menarik di berbagai media sosial. Kemudian, memberi promo pada saat rilis produk melalui media sosial dan waktu-waktu tertentu.

Masalah utama yang dihadapi oleh usaha alen-alen jadul ini adalah pemasaran. Pemasaran hanya dilakukan secara konvensional karena keterbatasan pelaku usaha dalam menggunakan media internet sebagai media pemasaran.Padahal dengan metode konvensional akan lebih memerlukan biaya tinggi, misalnya ikut pameran, pembuatan dan penyebaran brosur dan sebagainya. Berkembangnya internet menjadi sarana yang efisien untuk membuka jalur pemasaran model baru bagi produk alen-alen jadul ini. Di samping biayanya relatif murah, dengan memanfaatkan internet penyebaran informasi akan lebih cepat dan jangkauannya lebih luas.

Untuk dapat mencapai perkembangan usaha yang signifikan juga perlu diperhatikan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam menjalankan usaha. SDM yang berkualitas dibutuhkan karena sebagai pemegang roda usaha dibutuhkan karakter maupun jiwa yang tangguh. Setidaknya dalam melakukan suatu usaha, pelaku usaha hendaknya memiliki tingkat performance tinggi, memiliki semangat dan sikap mau berusaha. Selain itu dibutuhkan SDM yang loyal dan mampu melayani konsumen dengan baik agar konsumen dapat merasa puas.

Tidak hanya dari kualitas produk yang dapat mempertahankan konsumen, tetapi dengan kualitas pelayanan yang handal dapat menarik minat konsumen dalam pembelian alen-alen jadul. Kualitas pelayanan merupakan segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan guna memenuhi harapan kosumen. Memberikan pelayanan yang unggul merupakan strategi yang baik karena lebih banyak menghasilkan konsumen yang baru. Pada dasarnya kualitas pelayanan sebagai suatu bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat pelayanan yang diterima dengan tingkat pelayanan yang diharapkan. Bagi perusahaann kuncinya adalah menyesuaikan dan melebihi harapan mutu yang diingikan konsumen. Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dianggap baik dan memuaskan. Kualitas harus dimulai dari kebutuhan konsumen dan berakhir pada kepuasan konsumen.

Usaha alen-alen jadul ini memiliki cara pelayanan yang kurang tepat sasaran bagi konsumen untuk dapat dengan cepat mendapatkan produknya.Dalam usaha ini pelayanan yang dilakukan yaitu dengan melayani pembelian langsung di toko maupun melalui aplikasi whatsapp.Namun tidak memberikan layanan kepada pembeli,sehingga pembeli harus mengambil atau membeli produk langsung di tempat usaha.Menurut saya hal ini akan mengurangi performance usaha terhadap para membeli, karena terkesan menyusahkan pembeli untuk dapat mendapatkan produk dengan cepat. Dengan demikian akan lebih baik jika dilakukan sistem delivery agar memudahkan konsumen untuk mendapatkan produknya tanpa harus pergi ke lokasi produksi.Namun juga harus memperhatikan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan sistem ini, sehingga diharapkan akan semakin menambah profit.

Untuk dapat mengembangkan usaha alen-alen jadul ini perlu disusun strategi bisnis yang akan memudahkan pelaku usaha untuk menentukan arah bisnis dan menjalankan usaha yang diinginkankan. Mengingat ketatnya persaingan di dunia bisnis juga menuntut pelaku usaha untuk siap bertarung dan menghadapi resiko yang sewaktu-waktu bisa muncul. Mengenali kompetitor ini dilakukan dengan tujuan agar bisnis Berdasarkan uraian diatas,langkah yang telah ditempuh Pak Karim untuk dapat mengembangkan usahanya yaitu dengan mengeluarkan sesuatu yang berbeda seperti menambah variasi rasa, serta menambahkan label yang menarik dan informatif sebagai brand tersendiri.Melakukan hal yang cukup memudahkan konsumen dengan melayani pemesanan melalui whatsapp. Selain itu Pak Karim telah menggunakan mesin pembuat alen untuk dapat memenuhi pesanan konsumen yang datangnya tak terduga. Hal ini dilakukan Pak Karim dengan harapan agar bisa mendatangkan hasil yang lebih baik dari kompetitor.

 

III.             Kesimpulan dan Saran

A.    Kesimpulan

Usaha Alen-Alen Jadul milik Pak Karim tergolong berkembang.Asumsi berkembangnya usaha ini dapat dilihat dengan telah digunakan teknologi pembuat alen yang semakin canggih, adanya inovasi varians rasa pada produk, penerimaan pemesanan melalui layanan online whatsapp, serta pemasaran produk alen-alen yang telah sampai luar daerah.

B.     Saran

Pada usaha alen-alen jadul ini masih mengikuti paradigma lama dalam kewirausahaan dimana penjual hanya menyediakan produk tanpa diikuti dengan kebutuhan konsumen. Sebagiknya usaha ini lebih membuka diri untuk memberikan kepuasan pelayanan yang memudahkan bagi konsumen, seperti dilakukannya sistem delivery dengan tetap memperhatikan biaya yang dikeluarkan agar tetap mendapat keuntungan.Kemudian dalam kegiatan promosi, usaha ini kurang gencar dalam mempromosikan produk dan hanya dilakukan word to mouth, maka perlu dikembangkan sistem promosi yang lebih mudah dan banyak dijangkau oleh khalayak ramai seperti promosi melalui pemanfaatan jaringan internet (media sosial).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 Variasi rasa produk alen-alen jadul

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 Label pada produk

Gambar 3 Lokasi penjualan alen-alen jadul

Komentar